Komnas Perlindungan Anak Desak Kapolres Siantar Tangkap Pelaku Cabul “SS”

Ketum Komnas Perlindungan Anak.
P.SIANTAR | METROPUBLIK.COM – Ketua umum Komnas Perlindungan Anak ,Arist Merdeka Sirait mendesak kapolres Siantar segera menangkap Pelaku Cabul, HD (40) Bapak dari SS korban Budak seks selama 1 Tahun.

Hal ini dikatakan lewat WhatsAPP miliknya kepada Metropublik.com ,Selasa (10/10/2017) mengatakan, Perbuatan menjijikan dan biadab yang dilakukan HD (40) warga Jln. Viyata Yudha, Kelurahan Bahapul, Kota Pematang Siantar terhadap darah dagingnya  sendiri SS (11), telah melukai dan menginjak-injak  harkat dan martabat kemanusiaan sebagai ciptaan Tuhan.

“Kejahatan kemanusiaan ini tidak bisa ditoleransi apa lagi kejahatan seksual ini dilakukan oleh orangtua kandungnya sendiri. Ayah yang sesungguhnya sebagai pahlawan bagi anak-anaknya, ini justru berubah menjadi monster dan sumber mala petaka yang merusak masa depan anak,”Ujar Ketum Komnas Perlindungan Anak.

Dikatakan Arist, Menurut pengakuan korban kepada wali kelasnya Kamis (05/10/17),  bahwa perbuatan biadab ini telah dilakukan ayahnya berulang-ulang di tempat tinggal mereka sejak korban kelas 4 SD. Masih menurut pemaparan korban kepada gurunya, bahwa perbuatan menjijikkan dan  bejat  ini dilakukan HD pada saat rumah sepi dan nenek korban tidak ada dirumah.

“Akibat perbuatan HD,  Kondisi korban saat ini membutuhkan pendampingan intensif, karena luka pada vagina korban cukup serius dan mengakibatkan bagian dalam rahim korban rusak dan membutuhkan layanan medis yang baik,”Papar ARIST.

Baca Juga : Bocah SD ini Jadi Budak Seks Ayahnya Selama 1 Tahun

Masih menurut pengakuan korban dan nenek korban,Lanjut Arist, HD juga pernah dihukum dengan tindak pidana yang sama bahwa kekerasan seksual pernah terjadi ketika korban berusia 3 tahun.

“Atas peristiwa bejat ini dan demi kepentingan terbaik bagi korban, Komisi Nasional Perlindungan Anak sebagai lembaga independen yang memberikan pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia mendesak Polres Siantar sesuai dengan kewenangannya untuk segera menangkap,  menahan dan menjerat pelaku dengan ketentuan UUU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang penerapan Peraturan Pengganti Undang'undang (Perpu) No. 01 Tahun 2016 tentang perubahan kedua UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan Anak junto ketentual pasal 82 ayat 1, 3 dan 4 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 dan KUH Pidana dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara”.Jelasnya.

Dikatakannya, Untuk memastikan penegakan hukum dan memberikan layanan dampingan hukum dan advokasi bagi korban Sabtu (14/10/17) depan , Tim Investigasi cepat Komnas Anak  yang dipimpin Arist Merdeka Sirait bersama Tim Investigasi LPA Siantar akan mengunjungi Polres Siantar guna melakukan kordinasi penegakan hukum dan ke Kantor Dinas PPPA,  serta Dinas Sosial Kota Siantar guna memberikan bantuan  sosial dan layanan pemulihan trauma bagi korban”,Katanya .

Arist menambahkan, tim Komnas Perlindungan Anak juga mengagendakan untuk bertemu korban dan keluarganya serta  pihak pengelola sekolah tempat korban  menempuh pendidikan dasar dan para guru untuk memberikan penghargaan dan apresiasi  terhadap kepedulian dan inisiasi para guru untuk memberikan pertolongan bagi muridnya sebagai korban. "Sekolah ini patut direkomendasikan untuk mendapat penghargaan dari pemerintah pusat sebagai sekolah ramah anak", tambah Arist.

Diketahui, SS adalah korban budak seks bapak kandungnya selama 1 Tahun lamanya. Kejadian itu dilakukan di kediaman mereka .  Akhirnya , korban trauma dan tidak banyak bicara.(Rizal)
Advertisement
 
close button
Back to top
Situs ini menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami Kebijakan Kami
Got It!