Header Ads

Oknum Guru Cabul di Penjara,PERSILUM Lakukan Unjuk Rasa di Kota Siantar



P.SIANTAR | METROPUBLIK.COM -  Aksi demo dilakukan oleh Perhimpunan Siswa/siswi Alumni SMK Swasta Bintang Timur (Persilum) Dengan berkeliling Kota Siantar, Dan berakhir dipelataran Mapolres Siantar. Senin (13/11/2017) Sekira pukul 14.24 WIB.

Ratusan siswa/i dan alumni SMK Bintang Timur menggelar pawai keliling Jalan Sutomo-Merdeka kota siantar sebelum memasuki Mapolres Siantar. Sambil membawa poster, mereka meminta agar guru mereka TM (35) dibebaskan dan kasus dugaan pencabulan yang menimpa guru Tehknik Informatika itu dihentikan. 

Zetha Sianipar, yang bertindak sebagai koordinator lapangan menyampaikan langsung 3 yang menjadi pernyataan aksi mereka di depan Wakapolres Pematangsiantar, Kompol J M Sagala dan jajarannya. 

Dalam pernyataannya, mereka meragukan laboratorium komputer yang menjadi Tempat Kejadian Perkara (TKP) digunakan oleh TM untuk melakukan pencabulan terhadap korban. 

"Laboratorium komputer tempat kejadian tidak memungkinkan untuk melakukan pencabulan, karena didalam laboratoriun ada 42 siswa/i dan tidak ada pembatas tempat diantara yang satu dengan yang lain,"ucap Zetha dengan lantang. 

Dan poin kedua didalam pernyataan aksi mereka, pihak yang mengaku korban tidak ada rasa trauma pasca kejadian yang dialaminya. Korban bahkan tidak pernah ketakutan bahkan menangis. 

Selain itu, korban yang masih tetap melanjutkan pendidikannya di SMK Bintang Timur itu sering tertawa tanpa adanya rasa trauma sesuai pengakuan dari orang tua korban. 

Mereka menduga adanya permainan dalam kasus yang menimpa TM. Karena seperti yang dikutip dari pernyataan aksi di point ketiga, orangtua korban diduga telah memeras tersangka sebesar Rp. 10 M. 

Selain menyatakan pernyataan aksi, ratusan siswa/i yang diwakili Zetha Sianipar juga menyampaikan 5 poin tuntutan yang dilayangka kepada pihak Kepolisian dan Media. 

1. Mendesak pihak Kepolisian agar melakukan proses penyelidikan dengan transparan dan objektif

2. Meminta kepada pihak media (Cetak dan Online) agar tidak memberitakan kasus secara berlebihan

3. Sebelum bapak TM terbukti bersalah, kami meminta kepada Kepolisian untuk membebaskan bapak TM

4. Kembalikan nama baik SMK Bintang Timur dengan mencabut pemberitaan yang belum tentu kepastuannya

5. Kami meminta agar mengembalikan nama baik bapak TM. 

Wakapolres Siantar, Kompol JM Sagala yang berdialog langsung dengan ratusan siwa/i itu merespon baik aksi yang dilakukan para siswa/i.

Menyikapi pernyataan mereka, Kompol JM Sagala menyampaikan, saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan berkas berkas perkara tersangka. Terkait status tersangka yang saat ini disandang TM, kata Sagala, tidak serta merta menandakan bahwa TM terbukti melakukam pencabulan terhadap korban. 

Namun jawaban Kompol JM Sagala tidak dapat diterima para siswa/i. Akibatnya, sempat terjadi perdebatan antar siswa/i dengan pihak Kepolisian. 

Tidak ingin berkepanjangan, Kompol JM Sagala memberikan kespatan kepada penyidik unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim. 

Peyidik senior Sat Reskrim Aiptu Darwin Siregar kembali menjelaskan perjalanan kasus hukum tersangka TM yang saat ini masih mereka tangani. Darwin Siregar menjelaskan kepada siswa/i pengertian tindak pidana pencabulan menurut Undang-undang RI. 

"Biar juga adik adik pahami. Di dalam undang undang itu dikatakan pencabulan bukan berarti berhubungan badan atau berhubungan suami istri,"terang Darwin sembari membaca KUHPidana yang dipegangnya. 

Ia pun berharap agar siswa/i yang melakukan unjuk rasa memberikan kepercayaan kepada Kepolisian untuk bekerja secara profesional. Pihak Kepolisian dalam hal ini, terang Darwin, tidak akan melakukan intervensi.

"Kami memaklumi perasaan kalian. Tapi berikanlah kepercayaan kepada kami untuk bekerja secara profesional,"pungkasnya. 

Dikarenakan Polisi masih memiliki tugas yang lainnya, Kompol JM Sagala pun meminta maaf dan meminta kepada para siswa/i yang melakukan unjuk rasa untuk membubarkan diri dan kembali ke rumah mereka masing masing.

Tanpa perlu diminta dua kali, para siswa/siswi akhirnya membubarkan diri dengan tertib dan teratur. (Rizal Siregar)
Comments
Powered by Blogger.