Menu Close Menu

Baik Buruknya Tempat Nyamanku, ‘Rumah’

Minggu, 13 Mei 2018 | 10:13 WIB
Jakarta | Metropublik.com - Rumah salah satu tempat  paling  ternyaman bagi setiap pemiliknya, seberapa jauh jalan melangkah tujuan akhir dari perjalanan adalah rumah. Rumah memang kerap menjadi tempat berkeluh kesah dalam setiap ceritanya, bagaimanapun keadaan rumah, rumah akan selalu menjadi alasan pertama untuk mengakhiri kegiatan.

Perjalanan  kali ini membuatku semakin mencitai Ibu Kota Jakarta, dengan melihat orang-orang dengan kesibukannya masing-masing. Beragam kesibukan ada di tempat ini, mulai dari pedagang minuman, penjual baju, maupun penjual aksesoris handphone ada di tempat yang terpencil ini.

Tempat ini sangat memprihatinkan. Udaranya sesak karena banyaknya rumah yang berdempetan, tidak ada lagi ruang untuk bernafas setiap orang datang ketempat ini. Banyak sampah berserakan, jalan hanya setapak, sungai yang bau tercium sangat di hidung, dan kerumunan warga dimana-mana.

Kampung ini menjadi pusat perhatian buatku, karena banyak rumah yang tak layak untuk ditepati dan kumuh. Di Jalan Johar Baru, Jakarta Pusat, memang terlihat tidak layak untuk ditinggali bagi kalangan anak-anak maupun orangtua. Menurutku tempat ini pula banyak sekali yang memerlukan tempat tinggal selayaknya.



Langkahku berhenti ketika melihat perempuan paruh baya sedang menyapu teras halaman rumah. Kuperhatikan lebih jauh, Dia mulai kelelahan dengan kakinya yang kecil. Aku datangi perlahan dengan membawa satu botol aqua yang sudah ku beli sejak tadi, lalu ku tawari minuman tetapi, ia menolak dengan senyum tanpa henti.

Ia adalah Suratih, seorang paruh baya yang sudah lama tinggal di tempat kecil ini sejak Ia usia dini pada tahun 1935, dimana dulunya ia pernah membuka kios untuk menjual barang segala rupa di rumahnya, kini sudah tidak ada lagi karena banyaknya orang datang untuk mencari tempat tinggal di kampung yang kumuh ini.

Rumah yang ditinggali Suratih sudah menjadi tempat untuk berkeluh kesahnya, sejak penjajahan belanda datang ke Indonesia rumah itu sudah ada.  Menurut Suratih sejelek apapun rumah, pemilik selalu ada cara untuk mencintai rumahnya.

“Jiwa raga saya sudah disini, memang tidak layak kelihatannya tapi saya nyaman, rumah ini sudah menjadi saksi perjalanan saya sampai sekarang, susah untuk dipisahkan, dan saya akan selalu tetap disini sampai saya mati,”  ujar  wanita kelahiran 1935  itu.



Tidak perlu rumah semegah istana, jelas sekali bahwasanya rumah yang aman, damai ialah gabungan di antara hangatnya kebersamaan, dan manisnya suka duka. Rumah akan selalu jadi tempat paling nyaman meski tak layak untuk ditempati.

Penulis : Ani Aprilliani
Metropublik.com ,tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini.

Komentar