Menu Close Menu

Terungkap! Kapal KM Sinar Bangun Yang Tenggelam Tidak Memiliki Izin Berlayar dan Kelebihan Muatan

Senin, 25 Juni 2018 | 14:08 WIB
SUMUT - Terungkap, rupanya Kapal KM Sinar Bangun yang tenggelam diperairan Danau Toba pada Senin 18 Juni 2018 sore kemarin berlayar tanpa memiliki surat persetujuan berlayar, dimana nahkoda melayarkan kapal dan mengoperasikan kapal tanpa memenuhi persyaratan keselamatan dan keamanan pelayaran sehingga mengakibatkan meninggalnya (matinya) penumpang.

Kapolda Sumut, Irjen Pol Paulus Waterpauw didampingi Dirreskrimum Kombes Pol Andi Rian, pejabat utama, dan Kasubbid Penmas AKBP M.P Nainggolan membenarkan peritiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun merupakan kelalaian dan juga kesengajaan dari oknum-oknum yang ingin meraup keuntungan.

“Kejadian awal pada Senin 18 Juni 2018 sekira pukul 17:00 Wib, nahkoda kapal SS bersama tiga orang ABK berangkat dari pelabuhan Simanindo menuju Pelabuhan Tigaras, Kec Perdamaian, Kab Simalungun dengan membawa penumpang lebih dari 150 orang dan sepeda motor berkisar 70 unit. Setelah berlayar, berkisar pukul 17:30 Wib, kapal terasa ada benturan dan tidak lama langsung oleng dan tenggelam,” ungkap Kapolda Sumut seperti dikutip di webiste Suaraperubahan.co

Atas adanya insiden kapal tenggelam itu, Kapolda Sumut menegaskan telah menetapkan empat orang sebagai terduga tersangka.

“Seusai kejadian kapal tenggelam, pihak Polda Sumut membentuk tim dan melakukan lidik dan sidik, hasilnya empat orang ditetapkan sebagai terduga tersangka,” sambungnya.

Adapun keempat orang itu ialah, nahkoda kapal (SS), pihak regulator pegawai Dishub Kabupaten Samosir (KS), Kapos Pelabuhan Simanindo PNS Dishub Kabupaten Samosir (GFP) dan Kabid Angkutan Sungai dan Danau Perairan inisial (RS).

“Masing-masing terduga tersangka dianggap melakukan kesalahan yang berbeda sesuai keterangan saksi dan barang bukti serta petunjuk yang ada,” terangnya.

Nahkoda berinisial SS berlayar tidak memiliki izin berlayar, bersangkutan tahu dan sengaja membiarkan kapal lebih dari 45 penumpang dan tidak sesuai standarisasi.

“Dalam kapal tidak boleh membawa kendaraan, tetapi SS membiarkannya atau adanya unsur kesejengajaan atau kelalaian. Seharusnya penumpang didalam kapal itu hanya 45 orang plus 3 ABK,” ujar Kapolda Sumut.

Selanjutnya, KS dan GFP selaku Kapos Pelabuhan Simanondo yang seharusnya bertugas mengecek dan mengatur kelancaran masuknya surat dan penumpang.

“Mengawasi surat, retribusi dan mengawasi kegiatan kapal. Seharusnya kedua orang ini melarang jika kapal berpenumpang melanggar atau penumpang berlebihan dan kapal tidak layak berlayar. Sudah ada warning dari BMKG cuaca tidak baik, tapi kok masih dilanggar,” ungkap Kapolda Sumut lagi.

Lalu, Kabid Angkutan Sungai dan Danau Perairan inisial (RS) berperan mengawasi kegiatan yang ada di pelabuhan di Kab Samosir.

“Bersangkutan yang bertanggung jawab mengelola pelabuhan di Kabupaten Samosir, namun RS tidak mengelolah pelabuhan sebagai mestinya. Bahkan yang bersangkutan membiarkan kendaraan naik ke kapal, padahal seharusnya KM Sinar Bangun tidak diperbolehkan mengangkut kendaraan. Tapi ini malah sampai 70-an kendaraan naik diatasnya,” tuturnya.

Selain menetapkan empat orang sebagai terduga tersangka dan mengamankannya, Polda Sumut juga menyita 45 blok karcis masuk pelabuhan senilai Rp 500 yang telah digunakan, 48 blok retribusi pemeliharaan dermaga dan foto copy dokumen kelengkapan kapal KM Sinar Bangun IV Nomor 117.

“Mereka (terduga tersangka) dipersangkakan melanggar pasal 302 dan atau 303 UU nomor 17 tahun 2008 tentang pelayaran Jo pasal 359 KUHPidana dengan pidana kurungan selama 10 tahun dan denda sebesar Rp 1,5 miliar) Jo psal 359 KUHPidana (penjara selama lamanya 5 tahun),” tegas Kapolda Sumut.(Reza)
Loading...

Komentar